30 June 2009

Anak kedua kami

Alhamdulillah pada hari Ahad tanggal 28 Juni 2009 jam 5.05 pagi anak Kami yang kedua lahir dengan normal dengan berat 3,5kg panjang 54cm, di Gombak Medical Centre – Kuala Lumpur. Kami berikan nama:


NAWWAR AFUZA BIN MUNIF

(nawwar)

semoga menjadi anak yang sholeh, berbakti kepada Agama, kedua orang tua, dan negara..amin, mohon doanya dari rekan rekan semua....makasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Munif dan keluarga



13 June 2009

MENGUBAH JERAMI KERING MENJADI DAGING SAPI

Indonesia masih kekurangan daging sapi. Kekurangan tersebut selama ini dipenuhi dari impor daging beku, sapi siap potong maupun sapi bakalan untuk digemukkan. Kendala utama yang mengakibatkan adanya kekurangan daging sapi tersebut adalah jumlah induk betina sapi kita hanya tinggal sekitar 11 juta ekor. Idealnya kita memiliki induk betika sekitar 14 sd. 15 juta ekor. Namun di luar kendala kekurangan induk sapi tersebut, produktivitas sapi potong kita juga sangat rendah. Kalau sapi impor rata-rata mampu tumbuh dengan peningkatan bobot badan 1 kg per hari, maka sapi lokal kita hanya akan bertambah berat tara-rata 0,5 kg. per hari. Kendala produktivitas sapi potong kita antara lain disebabkan oleh kurangnya hijauan sebagai ransum, terutama pada musim kemarau. Di Jateng, DIY dan Jatim, limbah pertanian berupa tebon jagung dan jerami kering pun digunakan sebagai pakan sapi. Padahal nutrisi dari tebon dan jerami kering tersebut sudah sangat rendah. Makanan tambahan yang diberikan oleh peternak kepada sapi mereka hanyalah dedak (padi serta jagung), ampas tahu, tetes serta limbah pertanian lainnya. Namun di lain pihak, jerami padi banyak yang dibakar sia-sia. Di kawasan Karawang, Jawa Barat atau di sentra-sentra penghasil padi lainnya, sering kita saksikan pembakaran jerami kering di sawah-sawah. Padahal di lain pihak, para peternak sapi di Gunung Kidul (DIY) serta Wonogiri (Jateng) sedang kekurangan hijauan untuk pakan sapi mereka.

Pola peternakan sapi rakyat di Jawa, Bali dan Lampung, agak berbeda dengan di luar Jawa/Bali/Lampung. Di Jawa/Bali/Lampung, ternak sapi selalu dikandangkan. Sementara di luar kawasan tersebut, sapi diliarkan di ladang-ladang atau hutan. Di Jawa/Bali/Lampung, peternak bisa berfungsi sebagai breeder, namun bisa pula sebagai penggemuk sapi kereman. Yang dimaksud sebagai breeder adalah, yang mereka pelihara sapi betina. Hasil yang mereka harapkan adalah anak sapi. Biasanya untuk proses pembuntingan, mereka menggunakan cara inseminasi buatan (kawin suntik). Kalau anak yang diperoleh jantan, akan digemukkan sebagai sapi potong. Apabila betina akan dibesarkan sebagai calon induk. Keuntungan dari memelihara induk sapi betina ini relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan memelihara sapi bakalan untuk digemukkan sebagai sapi potong. Namun para peternak sapi di Jawa/Bali/Lampung biasanya tidak merasa dirugikan dengan memelihara sapi betina, sebab mereka juga sekaligus menggemukkan sapi jantan hasil peternakan mereka. Selain itu, di kawasan ini sapi betina tersebut juga bisa berfungsi sebagai tenaga kerja membajak sawah. Hingga di Jawa/Bali/Lampung, peternak tidak pernah membeda-bedakan fungsi peternakan mereka, apakah sebagai breeder atau sebagai penggemuk sapi kereman.

Jenis sapi lokal yang banyak dibudidayakan masyarakat Indonesia adalah sapi zebu, peranakan ongole (PO), sapi bali, sapi madura (silangan alami antara zebu, ongole dan bali), american brahman dan australian brahman. Kadang-kadang, di masyarakat juga kita jumpai jenis sapi yang tidak lagi ketahuan galur/rasnya. Sebab di kalangan masyarakat pedesaan, dulu ada kebiasaan untuk mengawinkan sapi betina mereka, tanpa pernah memperhitungkan jenis pejantannya. Akibatnya sapi PO bisa kawin dengan sapi madura, sapi brahman dan sebagainya. Keturunan yang diperoleh, tentu menjadi tidak murni lagi. Dulu, perkawinan sedarah (inbreeding) atau antar saudara, juga ikut pula memerosotkan kualitas sapi yang ada. Terjadi degradasi kualitas sapi yang ada di masyarakat. Upaya pemerintah dengan melakukan inseminasi buatan, berikut penyuluhan kepada para peternak, telah memperbaiki kualitas sapi rakyat. Hingga sekarang galur sapi yang dipelihara masyarakat kembali jelas. Di Jawa dan Lampung, rata-rata masyarakat memelihara sapi zebu, PO atau brahman. Di Madura tentu sapi madura sementara di Bali sapi bali. Sapi madura dan sapi bali ini banyak pula dipelihara di NTP dan NTT. Di kawasan transmigran atau pemukiman lain di Luar Jawa, Madura, Bali dan Lampung, sapi yang dipelihara tergantung dari masyarakat pemukimnya. Meskipun sekarang ada kecenderungan masyarakat untuk lebih memilih sapi bali serta madura karena daya tahanannya yang relatif tinggi terhadap kekurangan hijauan maupun serangan penyakit.

Dengan harga sekitar Rp 12.500,- per kg. hidup, dengan bobot rata-rata sekitar 300 sd. 400 kg. maka harga beli sapi jantan bakalan untuk digemukkan sekitar Rp 3.750.000,- sd. Rp 5.000.000,- Sapi-sapi lokal kita rata-rata akan mencapai pertambahan bobot hidup 0,5 kg. per hari. Sementara bakalan impor mampu tumbuh 1 kg. bobot hidup per hari. Namun biaya pakan dan perawatan sapi impor juga lebih tinggi dari sapi lokal. Sementara harga per kg. bobot hidup sapi impor, justru lebih rendah dibanding sapi lokal. Ibaratnya harga ayam broiler dengan ayam kampung. Dengan pertambahan bobot hidup 0,5 kg. per hari, kalau harga per kg. bobot hidup Rp 12.500. maka akan diperoleh marjin kotor Rp 6.250,- per hari. Dengan menggunakan pola menggaduh (maro), maka 50% dari marjin tersebut merupakan hak bagi pemilik modal. Hingga hak bagi pemelihara hanyalah Rp 3.125,- per ekor per hari. Dri marjin tersebut, 50% untuk biaya pakan. terutama konsentrat. Sebab hijauan biasanya akan dicari sendiri oleh si pemelihara. Hingga nilai "upah" bagi pemelihara sapi potong adalah Rp 1.562,50 per hari. Dengan kemampuan menggemukkan rata-rata sekitar 4 ekor, maka nilai penghasilan tenaga buruh penggemukan sapi adalah Rp 6.250,- per hari, dengan jam kerja antara 2 sd. 3 jam. Jam kerja ini akan digunakan untuk mencari hijauan, membersihkan kandang, memberi minum, memandikan sapi dll. Nilai upah ini setelah jangka waktu penggemukan selesai, biasanya 3 bulan, adalah Rp 140.625,- per ekor atau Rp 562.500,- untuk 4 ekor sapi.

Kalau penggemukan sapi ini dilakukan secara bisnis, maka nilai biaya yang harus dikeluarkan oleh investor adalah Rp 3.125,- per ekor per hari untuk sapi lokal, dan Rp 6.250,- per ekor per hari untuk sapi impor. Nilai biaya tersebut akan dialokasikan untuk penyusutan kandang, peralatan, perijinan dll, untuk pakan, obat-obatan serta tenaga kerja, termasuk untuk biaya manajemen. Jumlah minimal sapi lokal yang bisa digemukkan boleh hanya satu ekor dan sudah menguntungkan. Namun pada sapi impor, ada batasan minimalnya. Sebab mendatangkan sapi bakalan dari Australia, minimal harus satu kapal sebanyak sekitar 2.000 ekor. Hingga angka minimal yang harus digemukkan per angkatan adalah 2.000 ekor. Meskipun sekarang sudah ada pola "nempil". Seorang investor yang hanya memiliki modal untuk menggemukkan 20 ekor, bisa patungan dengan dua atau tida investor lain hingga terkumpul 40 sd. 60 ekor. Jumlah ini diusahakan untuk nempil (membeli sebagian kecil) dari pengusaha feedlot yang melakukan impor sapi bakalan. Apabila investor kecil tersebut sudah dikenal baik oleh importir, biasanya akan diberi "tempilan" sejumlah yang dibutuhkannya. Bahkan importir yang biasanya juga pengusaha penggemukan tersebut, akan menjamin pula pemasarannya apabila usaha yang dilakukan oleh si investor kecil tersebut berhasil. Patokan keberhasilan ini ditandai dengan angka mortalitas nol dan laju pertumbuhan minimal 1 kg. per ekor per hari.

Komponen utama usaha penggemukan sapi potong adalah pakan. Dalam penggemukan berskala bisnis modern, pakan utama adalah konsentrat plus silase. Hijauan, baik segar maupun kering hanya diberikan sekadar untuk "lauk pauknya". Sementara dalam penggemukan secara tradisional, pakan utama adalah hijauan (juga segar maupun kering), sementara pakan tambahannya hanya berupa dedak, ampas tahu, ampas singkong, tetes tebu dan pakan lain sesuai dengan ketersediaan setempat. Karenanya pertambahan bobot hidup rata-rata pada penggemukan secara tradisional hanyalah 0,5 kg. per hari. Meskipun sapi yang digemukkan merupakan bakalan impor, dengan pola penggemukan tradisional, sulit untuk mencapai pertumbuhan bobot hidup 1 kg. per hari. Sementara sapi lokal pun, apabila digemukkan dengan pakan utama konsentrat dan silase, sementara hijauannya hanya merupakan pakan tambahan, akan mencapai pertumbuhan bobot hidup lebih dari 0,5 kg per hari. Pada akhirnya, yang akan menentukan untung ruginya penggemukan sapi potong adalah komponen biaya pakan ini. Apabila kita bisa menemukan pakan yang mampu meningkatkan bobot hidup tinggi namun harganya murah, maka tingkat keuntungannya akan bertambah. Sebaliknya, penggunaan konsentrat pabrik secara berlebihan, akan menelan biaya tinggi, hingga pertumbuhan bobot hidup yang dicapai tidak mampu lagi menutup biaya pakan.

Hijauan murah yang selama ini masih belum termanfaatkan dengan baik untuk usaha penggemukan sapi potong adalah jerami padi. Kalau kita lewat kawasan Pantura atau sentra penghasil padi lainnya selama musim panen raya, maka akan tampak jerami yang dihamparkan di tengah sawah dan setelah kering langsung dibakar. Api (panas) yang ditimbulkan akibat pembakaran jerami ini, sebenarnya merupakan energi yang masih bisa diubah menjadi protein melalui pencernakan sapi. Di Gunung Kidul, DIY, pada musim kemarau sapi hanya diberi pakan jerami dan tebon (batang jagung) kering. Selulosa ini tentu sangat rendah gizinya. Namun di tahun 1950an, ketika pupuk urea diperkenalkan ke masyarakat, peternak di Gunung Kidul punya gagasan unik. Kalau mes (urea) bisa menyuburkan tanaman, mestinya juga bisa menggemukkan sapi. Maka mereka pun memberi sapi mereka sedikit urea pada minumannya. Biasanya air minum sapi ini dicampur dengan tetes, ampas singkong atau dedak. Di luar dugaan, ternyata sapi yang hanya diberi jerami dan tebon kering ini setelah mendapat urea benar-benar jadi gemuk. Dalam rumen (lambung sapi), memang terdapat bakteri penghancur selulosa. Dengan adanya starter urea plus karbohidrat, bakteri tersebut akan tumbuh pesat dan menghancurkan selulosa. Karena penghancuran jerami dan tebon kering ini dibantu oleh jutaan bakteri, maka penyerapan nutrisinya menjadi lebih optimal. Sementara bangkai bakteri berupa protein itu, merupakan gizi tambahan yang luarbiasa.

Sumber: http://foragri.blogsome.com

Pendapatan Dobel Berkat Kemitraan


Kemitraan sapi potong mampu menaikkan pendapatan peternak plasma hingga dua kali lipat.

Pola usaha kemitraan antara perusahaan besar dengan peternak plasma tidak hanya berlangsung di peternakan ayam pedaging. Di peternakan sapi potong pun hal itu ada. Kelompok Peternak Sapi Potong Cempaka di Kampung Astomulyo, Punggur-Lampung Tengah misalnya, telah menggandeng PT Great Giant Livestok Coy (GGLC), salah satu perusahaan pengemukan sapi di Lampung selama 11 tahun.

Surati, Ketua Kelompok Cempaka, mengungkap kepada AGRINA, kemitraan itu memungkinkan peternak memperoleh keuntungan yang lebih baik. Tak pelak jumlah anggota kelompok terus bertambah. Dulu ketika peternak menggemukkan sapi sendiri-sendiri, keuntungannya di bawah Rp500 ribu/ekor per periode. “Sekarang keuntungan plasma berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per ekor,” katanya.

Dengan kepemilikan sapi rata-rata 2—3 ekor, plasma dapat mengantongi keuntungan minimal Rp1 juta—Rp2 juta per periode (70—90 hari). Mereka ini menggemukkan sapi dengan peningkatan bobot harian rata-rata (average daily gain-ADG) 1,5 kg dari bobot awal rata-rata 350 kg menjadi 435--440 kg.

Terjamin

Hingga saat ini, menurut Surati, terdapat 122 peternak yang tersebar di Kampung Astomulyo dan Negeri Cahyo, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah menjalani pola kemitraan. Pada era 1990-an, kata dia, bermunculan kelompok peternak sapi di daerahnya. Namun saat itu cara budidayanya masih dengan menggembalakan sapi di sawah atau tegalan dan sorenya baru dimasukkan ke kandang.

Demikian pula perkembangbiakan sapi dilakukan secara alami antara sapi jantan dengan betina. Akibatnya pertumbuhan dan perkembangan sapi lambat dan hanya menjadi usaha sambilan bagi warga yang umumnya bercocok tanam padi.

Melalui kemitraan, peternak menerapkan pola budidaya semi intensif. Peternak yang mendapat sapi bakalan dari inti tinggal memberikan pakan konsentrat, kulit nenas, dan obat-obatan yang juga sudah dijamin penyediaannya oleh GGLC sebagai inti. Selaku plasma, peternak menanam rumput gajah atau hijauan lain.

GGLC menerapkan subsidi pada harga pakan konsentrat sehingga harganya terjangkau oleh plasma. Harga konsentrat Rp1.000/kg, dan kulit nenas Rp60—R65/kg. Dengan harga pakan murah, dari seekor sapi, peternak masih memperoleh keuntungan setelah dipotong harga sapi bakalan, pakan/konsentrat, dan obat-obatan.

Sementara itu, Didiek Purwanto, Direktur Produksi GGLC, mengatakan, dalam kemitraan, kelompok peternak mempunyai posisi tawar dalam penetapan harga, baik bakalan maupun hasil panen. “Namun, untuk sapi bakalan harganya sangat dipengaruhi oleh harga kontrak sapi bakalan yang didatangkan dari impor,” kata Didiek.

Hal itu dibenarkan Surati. Memang kelompok ternak yang memutuskan mengenai harga jual sapi. Jika kelompok menilai harga saat itu tidak menguntungkan, feedlot (inti) tidak bisa memaksa mengambil sapi di kelompok.

Tiap anggota tidak sekaligus menerima sapi, tapi diatur secara bergiliran. Misalnya, bulan pertama terdapat 100 plasma yang menerima sapi, bulan berikutnya 100 lagi, dan sisanya 100 plasma akan menerima sapi pada bulan ketiga. Pada bulan keempat, 100 plasma pertama sudah panen, selanjutnya panen di kelompok kedua dan ketiga. “Ini juga memudahkan pengaturan pemasaran dan mengantisipasi kekosongan sapi di kelompok,” jelas Surati.

Sistem seperti itu akan menciptakan kompetisi penuh antaranggota untuk menghasilkan sapi yang bagus dan peternak akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan usaha.


Sumber: http://www.agrina-online.com/

19 February 2009

Foto-foto hasil liburan ke kampung

Lama udah tidak membuka blogku... ini hasil foto2 waktu pulang ke kampung... beginilah kandang ternak sapiku.. masih banyak kekurangan-kekurangannya.









18 January 2009

KINERJA DAN PROSPEK PETERNAKAN 2009

Kinerja sektor pertanian pada tahun 2008 tergolong sangat baik. Selama Triwulan 1 sampai dengan Triwulan 3 tahun 2008, laju pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6.3 persen. Sektor pertanian mampu tumbuh sebesar 4.3 persen. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quarter to quarter), perekonomian Indonesia pada Triwulan 3 menunjukkan pertumbuhan sebesar 6.1 persen. Pertumbuhan terbesar pada tripulan 3 ditopang oleh pertumbuhan yang tinggi pada sub sektor pertanian sebesar 6.7 persen. Pertumbuhan yang tinggi di sektor pertanian tersebut ditopang oleh terjadinya pertumbuhan yang sangat tinggi di sub sektor
perkebunan sebesar 29.3 persen. Kontribusi yang tinggi di sektor perkebunan terjadi karena meroketnya harga-harga komoditas ekspor di sub sektor ini. Pertumbuhan ekonomi di Triwulan 4 diperkirakan akan melambat mengingat dampak krisis finansial global, menurunnya harga komoditas dan melambatnya kinerja ekspor akan menghadang pertumbuhan ekonomi nasional.

Selama tahun 2008, sub sektor peternakan tidak ada hentinya diterpa badai yang dasyat, berbagai persoalan seperti misalnya flu burung (AI), anthrax, penyelundupan Meat Bone Meal (MBM) dan daging, kasus CLQ dan terus meningkatnya harga-harga jagung dan kedelai di pasar internasional yang menjadi bahan baku pakan mengganggu kinerja sub sektor peternakan. Persoalan yang kerap melanda dunia peternakan kita tersebut sangat mengganggu kinerja sub sektor peternakan. Kinerja sub sektor peternakan tidak sebaik sub sektor-sub sektor lainnya, seperti misalnya sub sektor pangan, hortikultur dan perkebunan. Indonesia tetap saja mengimpor daging sapi dan susu masing-masing sebesar 35 persen dan 70 persen dari kebutuhannya. Sebagian besar pakan masih diimpor dan 100 persen grand parent stocks ayam broiler masih tergantung impor.

Dalam jangka panjang tidaklah dapat dipungkiri bahwa permintaan terhadap komoditas-komoditas peternakan akan terus meningkat seiring dengan adanya pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan, perbaikan tingkat pendidikan, urbanisasi, perubahan gaya
hidup (life style) dan peningkatan kesadaran akan gizi seimbang. Kondisi ini mencerminkan bahwa bisnis peternakan ke depan tetap memiliki prospek pasar yang baik dan berkelanjutan.

Peran dan prospek peternakan ke depan tetap memiliki peranan sosial dan ekonomi yang cukup signifikan walaupun dengan laju pertumbuhan kinerja yang melambat pada tahun 2009. Hal ini terjadi karena pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan akan melambat yang diakibatkan oleh adanya krisis finansial global dan tetap tingginya harga minyak dan pangan. Masalah besar yang dihadapi terkait dengan krisis pangan, energi dan keuangan global (global food, feed, fuel and financial crisis) atau yang sering disebut 4F adalah (a) laju inflasi yang meningkat, (b) daya beli masyarakat dan pada gilirannya ekonomi yang melemah akibat tingginya inflasi, (c) neraca keuangan pemerintah yang tertekan akibat semakin besarnya subsidi pada harga jual komoditas di pasar domestik, dan (e) pasar keuangan yang tertekan sehubungan dengan prospek ekonomi yang menurun dan resiko investasi yang meningkat.

Komoditas peternakan mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Hal ini didukung oleh karakteristik produk yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pasar yang potensial bagi agribisnis peternakan. Beberapa peluang bisnis dalam mengembangkan agribisnis peternakan diantaranya adalah pertama, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai ± 220 juta jiwa merupakan konsumen yang sangat besar, dan masih tetap bertumbuh sekitar 1,4 persen per tahun. Kedua, kondisi geografis dan sumber daya alam yang mendukung usaha dan industri peternakan. Ketiga, meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang gizi. Keempat, jika pertumbuhan ekonomi berjalan dengan baik, maka akan meningkatkan pendapatan per kapita yang kemudian akan menaikkan daya beli masyarakat.

Peternakan tetap mempunyai prospek dan peluang yang baik untuk dikembangkan karena didukung oleh kondisi Indonesia yang memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage) dalam komponen biaya input untuk tenaga kerja yang relatif lebih murah dibandingkan negara lain di ASEAN. Selain itu potensi dalam mengembangkan produksi jagung nasional dapat mengurangi ketergantungan impor dan menurunkan biaya produksi, sehingga mampu meningkatkan skala usaha yang optimal. Integrasi secara vertikal (vertical integration) juga sudah mulai terlaksana dengan menerapkan pola-pola kemitraan (contract farming), dimana
peternak sudah banyak bergabung dengan perusahaan inti sehingga jumlah pemeliharaan peternakan juga semakin meningkat dan mampu menjaga kualitas dari hasil komoditas peternakan tersebut.

Pengembangan bisnis peternakan mempunyai tantangan yang cukup besar akibat perubahan ekonomi ke depan. Melambatnya pertumbuhan ekonomi yang berakibat pada penurunan daya beli perlu dinatisipasi. Adanya liberalisasi perdagangan dunia yang akan meminimumkan restriksi perdagangan antar negara menimbulkan persaingan ketat antar negara di pasar dalam negeri maupun pasar internasional. Salah satu cara yang tepat untuk dapat menang dalam persaingan adalah melalui peningkatan dayasaing, baik dari sisi permintaan (demand) maupun dari sisi penawaran (supply).

Dari sisi permintaan, harus disadari bahwa permintaan konsumen terhadap suatu produk semakin kompleks yang menuntut berbagai atribut atau produk yang dipersepsikan bernilai tinggi oleh konsumen (consumer’s value perception). Jika dimasa lalu konsumen hanya mengevaluasi produk berdasarkan atribut utama yaitu jenis dan harga, maka sekarang ini dan dimasa yang akan datang, konsumen sudah menuntut atribut yang lebih rinci lagi seperti atribut keamanan produk (safety attributes), atribut nutrisi (nutritional attributes), atribut nilai (value attributes), atribut pengepakan (package attributes), atribut lingkungan (ecolabel attributes) dan atribut kemanusiaan (humanistic attributes). Bahkan aspek animal welfare yang menjadi persyaratan baru. Sedangkan dari sisi penawaran, produsen dituntut untuk dapat bersaing berkaitan dengan kemampuan merespons atribut produk yang diinginkan oleh konsumen secara efisien.

Bisnis peternakan mempunyai peranan yang besar terhadap perekonomian nasional, namun tidak dapat dielakkan bahwa komoditas ini sering mengalami permasalahan-permasalahan yang menghambat pengembangannya baik secara makro maupun mikro, diantaranya pertama, kurang tersedianya bahan baku, sehingga Indonesia masih harus mengimpor yang menyebabkan biaya produksi relatif tinggi. Kedua, iklim investasi (misalnya ekonomi biaya tinggi, proses perijinan yang lama dan berbelit, kurangnya sarana dan prasarana jalan dan transportasi, tidak adanya penegakan hukum yang ketat) belum kondusif bagi para investor. Ketiga, kenaikan harga BBM yang menyebabkan meningkatnya biaya produksi hasil peternakan. Keempat, krisis finansial global mengakibatkan adanya penurunan daya beli. Kelima, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang relatif rendah. Keenam, keterbatasan modal sehingga menghambat pengembangan usaha. Ketujuh, mewabahnya penyakit yang berkembang di beberapa daerah.

Last but not the least, pola masyarakat Indonesia selama ini masih terlalu bersandar kepada pangan nabati, khususnya beras yang diindikasikan oleh tingginya starchy staple ratio sebesar 63 persen. Disamping itu, kita masih punya ruang untuk enlarging the pies (memperbesar pangsa pasar produk-produk peternakan). Tingkat konsumsi protein hewani asal ternak masyarakat Indonesia masih di bawah rekomendasi Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, yaitu sebesar 6 gr/kap/hari. Saat ini pencapaian untuk daging adalah 3.35gr/kap/hari, telur 1.77 gr/kap/hari dan susu 0.6 gr/kap/hari, total 5.72 gr/kap/hari. Upaya promosi yang sistematis perlu kita galakkan bersama. Di berbagai lokasi strategis perlu ada iklan-iklan yang mendidik (misalnya “Apakah Anda telah memakan daging dan telur yang cukup hari ini?”) yang mengingatkan tentang pentingnya protein hewani untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia ke depan. Jika tidak, Human Development Index (HDI) kita tetap saja di bawah negara-negara tetangga kita. HDI kita pada tahun 2007/2008 berada pada urutan 107 dari 177 negara, sementara Malaysia (peringkat 63), Singapura (25), Thailand (78), Brunei
(30), dan bahkan Vietnam berada pada peringkat yang lebih baik dari kita (105).

Sumber: http://www.dmb.ipb.ac.id