19 February 2009

Foto-foto hasil liburan ke kampung

Lama udah tidak membuka blogku... ini hasil foto2 waktu pulang ke kampung... beginilah kandang ternak sapiku.. masih banyak kekurangan-kekurangannya.









18 January 2009

KINERJA DAN PROSPEK PETERNAKAN 2009

Kinerja sektor pertanian pada tahun 2008 tergolong sangat baik. Selama Triwulan 1 sampai dengan Triwulan 3 tahun 2008, laju pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6.3 persen. Sektor pertanian mampu tumbuh sebesar 4.3 persen. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quarter to quarter), perekonomian Indonesia pada Triwulan 3 menunjukkan pertumbuhan sebesar 6.1 persen. Pertumbuhan terbesar pada tripulan 3 ditopang oleh pertumbuhan yang tinggi pada sub sektor pertanian sebesar 6.7 persen. Pertumbuhan yang tinggi di sektor pertanian tersebut ditopang oleh terjadinya pertumbuhan yang sangat tinggi di sub sektor
perkebunan sebesar 29.3 persen. Kontribusi yang tinggi di sektor perkebunan terjadi karena meroketnya harga-harga komoditas ekspor di sub sektor ini. Pertumbuhan ekonomi di Triwulan 4 diperkirakan akan melambat mengingat dampak krisis finansial global, menurunnya harga komoditas dan melambatnya kinerja ekspor akan menghadang pertumbuhan ekonomi nasional.

Selama tahun 2008, sub sektor peternakan tidak ada hentinya diterpa badai yang dasyat, berbagai persoalan seperti misalnya flu burung (AI), anthrax, penyelundupan Meat Bone Meal (MBM) dan daging, kasus CLQ dan terus meningkatnya harga-harga jagung dan kedelai di pasar internasional yang menjadi bahan baku pakan mengganggu kinerja sub sektor peternakan. Persoalan yang kerap melanda dunia peternakan kita tersebut sangat mengganggu kinerja sub sektor peternakan. Kinerja sub sektor peternakan tidak sebaik sub sektor-sub sektor lainnya, seperti misalnya sub sektor pangan, hortikultur dan perkebunan. Indonesia tetap saja mengimpor daging sapi dan susu masing-masing sebesar 35 persen dan 70 persen dari kebutuhannya. Sebagian besar pakan masih diimpor dan 100 persen grand parent stocks ayam broiler masih tergantung impor.

Dalam jangka panjang tidaklah dapat dipungkiri bahwa permintaan terhadap komoditas-komoditas peternakan akan terus meningkat seiring dengan adanya pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan, perbaikan tingkat pendidikan, urbanisasi, perubahan gaya
hidup (life style) dan peningkatan kesadaran akan gizi seimbang. Kondisi ini mencerminkan bahwa bisnis peternakan ke depan tetap memiliki prospek pasar yang baik dan berkelanjutan.

Peran dan prospek peternakan ke depan tetap memiliki peranan sosial dan ekonomi yang cukup signifikan walaupun dengan laju pertumbuhan kinerja yang melambat pada tahun 2009. Hal ini terjadi karena pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan akan melambat yang diakibatkan oleh adanya krisis finansial global dan tetap tingginya harga minyak dan pangan. Masalah besar yang dihadapi terkait dengan krisis pangan, energi dan keuangan global (global food, feed, fuel and financial crisis) atau yang sering disebut 4F adalah (a) laju inflasi yang meningkat, (b) daya beli masyarakat dan pada gilirannya ekonomi yang melemah akibat tingginya inflasi, (c) neraca keuangan pemerintah yang tertekan akibat semakin besarnya subsidi pada harga jual komoditas di pasar domestik, dan (e) pasar keuangan yang tertekan sehubungan dengan prospek ekonomi yang menurun dan resiko investasi yang meningkat.

Komoditas peternakan mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Hal ini didukung oleh karakteristik produk yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pasar yang potensial bagi agribisnis peternakan. Beberapa peluang bisnis dalam mengembangkan agribisnis peternakan diantaranya adalah pertama, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai ± 220 juta jiwa merupakan konsumen yang sangat besar, dan masih tetap bertumbuh sekitar 1,4 persen per tahun. Kedua, kondisi geografis dan sumber daya alam yang mendukung usaha dan industri peternakan. Ketiga, meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang gizi. Keempat, jika pertumbuhan ekonomi berjalan dengan baik, maka akan meningkatkan pendapatan per kapita yang kemudian akan menaikkan daya beli masyarakat.

Peternakan tetap mempunyai prospek dan peluang yang baik untuk dikembangkan karena didukung oleh kondisi Indonesia yang memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage) dalam komponen biaya input untuk tenaga kerja yang relatif lebih murah dibandingkan negara lain di ASEAN. Selain itu potensi dalam mengembangkan produksi jagung nasional dapat mengurangi ketergantungan impor dan menurunkan biaya produksi, sehingga mampu meningkatkan skala usaha yang optimal. Integrasi secara vertikal (vertical integration) juga sudah mulai terlaksana dengan menerapkan pola-pola kemitraan (contract farming), dimana
peternak sudah banyak bergabung dengan perusahaan inti sehingga jumlah pemeliharaan peternakan juga semakin meningkat dan mampu menjaga kualitas dari hasil komoditas peternakan tersebut.

Pengembangan bisnis peternakan mempunyai tantangan yang cukup besar akibat perubahan ekonomi ke depan. Melambatnya pertumbuhan ekonomi yang berakibat pada penurunan daya beli perlu dinatisipasi. Adanya liberalisasi perdagangan dunia yang akan meminimumkan restriksi perdagangan antar negara menimbulkan persaingan ketat antar negara di pasar dalam negeri maupun pasar internasional. Salah satu cara yang tepat untuk dapat menang dalam persaingan adalah melalui peningkatan dayasaing, baik dari sisi permintaan (demand) maupun dari sisi penawaran (supply).

Dari sisi permintaan, harus disadari bahwa permintaan konsumen terhadap suatu produk semakin kompleks yang menuntut berbagai atribut atau produk yang dipersepsikan bernilai tinggi oleh konsumen (consumer’s value perception). Jika dimasa lalu konsumen hanya mengevaluasi produk berdasarkan atribut utama yaitu jenis dan harga, maka sekarang ini dan dimasa yang akan datang, konsumen sudah menuntut atribut yang lebih rinci lagi seperti atribut keamanan produk (safety attributes), atribut nutrisi (nutritional attributes), atribut nilai (value attributes), atribut pengepakan (package attributes), atribut lingkungan (ecolabel attributes) dan atribut kemanusiaan (humanistic attributes). Bahkan aspek animal welfare yang menjadi persyaratan baru. Sedangkan dari sisi penawaran, produsen dituntut untuk dapat bersaing berkaitan dengan kemampuan merespons atribut produk yang diinginkan oleh konsumen secara efisien.

Bisnis peternakan mempunyai peranan yang besar terhadap perekonomian nasional, namun tidak dapat dielakkan bahwa komoditas ini sering mengalami permasalahan-permasalahan yang menghambat pengembangannya baik secara makro maupun mikro, diantaranya pertama, kurang tersedianya bahan baku, sehingga Indonesia masih harus mengimpor yang menyebabkan biaya produksi relatif tinggi. Kedua, iklim investasi (misalnya ekonomi biaya tinggi, proses perijinan yang lama dan berbelit, kurangnya sarana dan prasarana jalan dan transportasi, tidak adanya penegakan hukum yang ketat) belum kondusif bagi para investor. Ketiga, kenaikan harga BBM yang menyebabkan meningkatnya biaya produksi hasil peternakan. Keempat, krisis finansial global mengakibatkan adanya penurunan daya beli. Kelima, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang relatif rendah. Keenam, keterbatasan modal sehingga menghambat pengembangan usaha. Ketujuh, mewabahnya penyakit yang berkembang di beberapa daerah.

Last but not the least, pola masyarakat Indonesia selama ini masih terlalu bersandar kepada pangan nabati, khususnya beras yang diindikasikan oleh tingginya starchy staple ratio sebesar 63 persen. Disamping itu, kita masih punya ruang untuk enlarging the pies (memperbesar pangsa pasar produk-produk peternakan). Tingkat konsumsi protein hewani asal ternak masyarakat Indonesia masih di bawah rekomendasi Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, yaitu sebesar 6 gr/kap/hari. Saat ini pencapaian untuk daging adalah 3.35gr/kap/hari, telur 1.77 gr/kap/hari dan susu 0.6 gr/kap/hari, total 5.72 gr/kap/hari. Upaya promosi yang sistematis perlu kita galakkan bersama. Di berbagai lokasi strategis perlu ada iklan-iklan yang mendidik (misalnya “Apakah Anda telah memakan daging dan telur yang cukup hari ini?”) yang mengingatkan tentang pentingnya protein hewani untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia ke depan. Jika tidak, Human Development Index (HDI) kita tetap saja di bawah negara-negara tetangga kita. HDI kita pada tahun 2007/2008 berada pada urutan 107 dari 177 negara, sementara Malaysia (peringkat 63), Singapura (25), Thailand (78), Brunei
(30), dan bahkan Vietnam berada pada peringkat yang lebih baik dari kita (105).

Sumber: http://www.dmb.ipb.ac.id

26 November 2008

TEKNOLOGI PEMBUATAN KOMPOS

TEKNOLOGI PEMBUATAN KOMPOS SUPER

oleh: Sasongko WR

PENDAHULUAN

Sapi merupakan jenis ternak ruminansia yang relatif lebih digemari oleh masyarakat umum. Di pulau Lombok khususnya, pemeliharaan sapi dilakukan secara kelompok dalam suatu kandang kolektif. Jumlah kandang kolektif yang ada berkisar 3.000 buah, yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten namun belum banyak yang memikirkan pengelolaan limbahnya (kotoran). Sebagian besar peternak belum mengelola dan memanfaatkan kotoran ternaknya.

Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan tercatat bahwa satu ekor sapi rata-rata menghasilkan kotoran rata-rata 10-25 kg/hari. Apabila dalam satu kandang kolektif dipelihara sebanyak 100 ekor sapi maka kotoran yang dapat dikumpulkan adalah 2.500 kg Namun sampai saat ini kotoran sapi yang dihasilkan umumnya dibuang ke saluran air. Maksudnya dilakukan demikian oleh peternak, adalah untuk memudahkan penanganan dan bisa dimanfaatkan untuk lahan-lahan yang terairi oleh saluran tersebut. Pada saat yang demikian (kotoran ternak segar) belum dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tanaman karena belum terdekomposisi dengan rasio C/N lebih dari 40.

Limbah ternak dapat lebih bermanfaat setelah melalui proses pengolahan, menjadi kompos. Keengganan peternak untuk memproses kotoran ternak menjadi kompos disebabkan oleh lama waktu yang dibutuhkan selama proses pengomposan lebih kurang 2 bulan. Namun dengan adanya berbagai teknologi, kotoran ternak dapat didekomposisi menjadi kompos dalam waktu yang lebih singkat. Dengan menggunakan cara ini didapat kandungan hara kompos yaitu N total (0,68%); P total (0,225%); C-organik (11,2 %); Kalium (0,55%) dan rasio C/N (16,47).

Tahapan pembuatan dilakukan dengan cara berikut ini.

Bahan-bahan yang dibutuhkan

- Kotoran sapi : 80-83%

- Kapur gamping : 2%

- Pemacu mikroorganisme (Stardec) : 0,25%

- Air secukupnya

- Serbuk gergaji : 5%

- Abu sekam : 10%

Alat-alat yang digunakan

- Sekop

- Cangkul

- Alat pengangkut dan mengumpulkan kotoran (grobak sorong)

- Tempat pembuatan dan penyimpanan (semacam gudang)

Bangunan tempat pembuatan

Sebaiknya dibuatkan tempat/bangunan khusus untuk membuat kompos, terutama bagi kandang kolektif. Lokasinya diusahakan agar tidak jauh dari kandang, untuk memudahkan pengumpulan kotorannya. Adapun contoh bangunan tersebut adalah sebagai berikut.

SKETSA TEMPAT PEMBUATAN KOMPOS DAN GUDANG PENYIMPANAN KOMPOS

  • Bangunan ini merupakan tempat pembuatan kompos sekaligus sebagai Gudang untuk penyimpanan kompos yang sudah jadi. Tempat pembuatan kompos terbagi dalam empat kotak.
  • Ukurannya dapat disesuaikan dengan jumlah ternak yang dipelihara dan ketersediaan lahan tempat untuk membangun.
  • Atap terbuat dari bahan asbes atau lainnya diusahakan agar tidak bocor kalau hujan.Tiang dan rangka atap dari kayu.
  • Setiap tahapan proses pembuatan dilakukan pada masing-masing kotak; pada kotak 1 (pertama) bisa menampung kotoran ternak + bahan organik lainnya seberat 15 – 20 ton tergantung kadar airnya.

Proses pembuatan

  • Sebelum dilakukan pembuatan kompos tempatnya terlebih dahulu harus disiapkan.
  • Diusahakan tempat pembuatan pupuk organik terlindung dari terik matahari langsung atau hujan ( tempat yang beratap). Saat pembuatan kompos diusahakan agar tidak tergenang air ataupun terkena air hujan karena akan menjadi busuk.
  • Kotoran sapi (faeses dan urine) yang bercampur dengan sisa pakan, di kumpulkan pada satu tempat, ditiriskan atau dikering anginkan selama satu minggu agar tidak terlalu basah.
  • Kotoran sapi yang sudah ditiriskan tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi pembuatan dan diberi kalsit/kapur dan dekomposer. Untuk membuat 1 ton bahan pembuatan kompos (kotoran ternak) membutuhkan 20 kg kapur, 50 kg ampas gergaji, 100 kg abu sekam dan 2,5 kg dekomposer (stardec)dan seluruh bahan dicampur lalu diaduk merata.
  • Setelah satu minggu diperam, campuran tadi diaduk/dibalik secara merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu bisa diukur dengan memasukkan telapak tangan ke dalam tumpukan bahan, bila terasa hangat berarti terjadi proses pemeraman.
  • Minggu kedua dilakukan pembalikan lagi. Demikian seterusnya sampai pada minggu keempat. Pada saat ini pupuk telah matang dengan warna pupuk coklat kehitaman bertekstur remah dan tidak berbau.
  • Pemeraman dilakukan selama 1 bulan. Kelembaban dan temperatur harus tetap dijaga agar sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk hidup dan berkembang.
  • Kemudian pupuk diayak atau disaring untuk mendapatkan bentuk yang seragam serta memisahkan dari bahan yang tidak diharapkan (misalnya batu, potongan kayu, rafia) sehingga pupuk yang dihasilkan benar-benar berkualitas.
  • Selanjutnya pupuk organik siap diaplikasikan ke lahan sebagai pupuk dasar atau dapat disimpan pada tempat yang terlindung dari terik matahari dan hujan.

22 November 2008

WORKSHOP PERCEPATAN DIFUSI DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI ENSILASI (6 NOVEMBER 2008)

Petenakan rakyat dalam hal ini khususnya adalah peternakan sapi potong, belumlah menjadi sumber penghasilan yang dapat memberikan keuntungan yang mensejahterakan peternak rakyat sebagai pemilik ternak.

Yang saat ini berkembang untuk menyambut mandiri daging 2010 adalah peternakan besar yang bakalannya berasal dari impor pedet (anak sapi) yang umumnya disebut sapi BX yang tidak lain adalah sebutan untuk anak sapi Brahman Cross.

Dalam pengusahaan peternakan besar tersebut sepertinya sudah terjadi penyimpangan tujuan awal, yang awalnya hanya merupakan penyalur untuk penyediaan calon bakalan bagi peternakan rakyat, beralih menjadi usaha penggemukan untuk dijual langsung dalam bentuk sapi siap potong setelah digemukkan 3 bulan.

Dari tujuan awal menjadi penyalur calon bakalan bagi peternakan rakyat, menjadi pengusaha ternak potong penghasil daging untuk rumah potong hewan sekaligus menjadi pesaing utama peternakan rakyat.
Skalanya pun menjadi skala usaha peternakan besar komersil.
Usaha peternakan besar tersebut hanya mempekerjakan rakyat untuk menjadi buruh kandang, bukan menjadi mitra pemelihara ternak.

Bila ditinjau secara menyeluruh, ada benang merah yang dapat ditarik dari persoalan peternakan rakyat ini. Benang merah tersebut adalah :
1. penyediaan calon bakalan untuk digemukkan dan penyediaan hijauan untuk pakan utama penggemukan sapi di satu pihak dan
2. pasar bagi hasil penggemukan sapi yang menguntungkan peternak rakyat di lain pihak.

Jadi : bakalan, pakan dan pasar sapi siap potong selalu menjadi masalah utama dalam usaha pengembangan peternakan rakyat, sehingga sampai hari ini belum ada peternakan sapi potong milik rakyat yang menghasilkan pendapatan yang mensejahterakan peternak rakyat sebagai pemilik ternak.

Menyoal kebijakan mandiri daging 2010 yang dicanangkan Deptan, khususnya Ditjen Peternakan, masalah penyediaan pakan hijauan menjadi salah satu hal sangat membantu bila dapat diwujudkan, mengingat pakan mengambil porsi hampir 70% biaya produksi.

Model Crops Livestock System (CSL) seperti yang pernah ditulis Menteri Pertanian Dr. Ir. Anton Apriyantono di media masa, memperkuat pendapat bahwa masalah pakan hijauan ini bagi usaha peternakan sapi potong dapat diwujudkan tanpa harus menambah lahan untuk pengadaan pakan hijauan tersebut dengan usaha peternakan terpadu .

Kalau di CSL adalah memanfaatkan lahan diantara tanaman kelapa sawit untuk ditanami rumput dalam usaha integrasi sapi potong dengan kebun kelapa sawit, maka hal yang sama bisa diterapkan untuk memanfaatkan limbah hijauan perkebunan jagung atau tebu yang berlimpah di musim panen raya bulan Januari dan Februari, untuk diawetkan dan dimanfaatkan di musim kemarau untuk pakan hijauan sapi potong milik peternakan rakyat.

Visi Dan Misi Workshop.
Pengawetan Hijauan limbah pertanian yang paling sedikit menurunkan mutu adalah pengawetan dengan cara ensilasi untuk menghasilkan silase hijauan makanan ternak, dibandingkan dengan pengawetan kering.

Masalah pokok yang dihadapi dalam pengawetan HMT menjadi silase HMT adalah kemasan yang harus kedap udara. Kemasan yang paling mudah, paling ramah lingkungan dan paling mudah dapat digunakan untuk memadatkan hijauan menggunakan alat press hidarulik , adalah kemasan berupa drum plastik bertutup yang dilengkapi klem besi pada tutupnya untuk mempertahankan tutup tidak terbuka saat penyimpanan, sebagai silo.

Pada saat panen raya akan dihasilkan limbah berupa hijauan dalam jumlah besar, yang untuk pengawetannya dengan cara ensilasi membutuhkan silo drum dalam jumlah besar pula.
Disinilah mengapa workshop ini berusaha menghadirkan banyak pihak untuk dapat memberikan pemecahan masalah dalam pengadaan silo oleh rakyat dari rakyat dan untuk rakyat.

Jadi visinya adalah :
"bagaimana melibatkan rakyat dalam meyediakan silo drum agar pengusaha pengawet limbah dapat memproduksi silase dengan bahan baku hijauan yang sangat melimpah di musim panen raya Januari Februari, kemudian menjual hasil pengawetannya pada rakyat yang sudah mengivestasikan sahammya berupa silo drum pada pabrik pengawet hijauan tersebut, di musim kemarau yang sangat kering di bulan Juli sampai September".

Dari hitungan di atas kertas, diketahui bahwa omset 1 ton silase per hari atau 300 ton pertahun, sudah memberikan keuntungan yang sangat baik bagi pengusaha pengawet limbah hijauan tersebut, dengan B/C ratio 20,11 dan BEP 1,73 serta IRR 40%, sehingga dapat dikatakan usaha pengawetan hijauan limbah ini seharusnya sangat layak.

Oleh karena itulah maka misi dari workshop ini adalah: "mengajak pihak-pihak terkait mewujudkan bagaimana caranya agar para pengusaha yang memiliki akses perkebunan jagung atau tebu dapat menyisihkan sebagian dananya untuk mengusahakan limbah hijauan pertanian sebagai komoditi pakan hijauan untuk pakan sapi potong".

Masalah percepatan difusi dan pemanfataan teknologi (PDPT) ensilasi di lapangan.
Seperti sudah dikemukakan sebelumnya bahwa masalah kemasan kedap udara merupakan masalah kunci pemanfatan teknologi ensilasi untuk pengawetan Hijauan.

Untuk pengadaan kemasan kedap udara ini sebetulnya dapat melibatkan masyarakat petani peternak rakyat.Untuk melibatkan masyarakat, bagaimana teknologi itu dapat dimanfaatkan oleh rakyat menjadi masalah utama. Untuk itu, maka perlu adanya pelatihan, sosialisasi dan pembudayaan cara beternak yang baik dan benar agar rakyat dapat memahami segitiga Feeding Breeding dan Management (FBM) dalam pengusahaan pengemukan sapi potong.

Berdasarkan pendapat rakyat yang telah merasakan pemanfaatan produk silase HMT untuk pemeliharaan ternaknya, diperoleh kesan bahwa rakyat merasa senang memelihara dengan pakan yang sudah tersedia dan tidak susah payah menyabit rumput setiap kali akan memberi pakan.

Dari hal ini maka masalah yang perlu ditekankan untuk PDPT ensilasi adalah:
1. masalah edukasi, sosialisasi dan pembudayaan produk silase pada peternak rakyat.

a. Masalah edukasi berupa pelatihan pemanfataan produk silase,
b. Masalah sosialisasi berupa demonstrasi cara pemberian pakan dengan produk silase HMT
c. Masalah pembudayaan berupa membudayakan kerja efisien dan terukur dalam pengusahaan penggemukan sapi potong .

2. masalah difusi dan pemanfaatan teknologi ensilasi pada pengusaha pemilik akses perkebunan jagung atau tebu.


Sumber: http://portal.bppt.go.id