02 October 2008

JuSt...Refressssshing...

Just for a memory when visiting Sentosa island at Singapore.....
















30 September 2008



GENDERANG TAKBIR BERKUMANDANG
SEIRING DATANG HARI KEMENANGAN

KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429H

MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN


28 September 2008

Sapi Glonggongan

HIKAYAT SAPI GLONGGONGAN

Siang itu sang sapi dibawa kekandang
Kedua kaki depannya diletakkan lebih tinggi
Kepala dihadapkan keluar
Kala itu sang jagal mengambil selang berisi air

Dipaksakan sapi itu meminum air yang disalurkan dari selang
Sapi itu meronta, berusaha lepas, namun apa daya tak mampu
Air itu terus menggelontor kedalam pencernaannya
Sang sapi tak mampu bergerak, perutnya kian menggembung

5-6 jam kemudian....
Sapi itu nampak bengkak, berdiripun sudah terhuyung
Dibawalah sapi itu ke tempat penjagalannya
Dibawa tanpa perikebinatangan

Sang sapi hanya pasrah, tak mampu lagi dia bergerak
Dengan badan yang terisi air begitu banyak
Disembelihlah sapi itu dengan semena-mena
Lihat!!!! darahnya cair....

Mengalir bagai air, tidak seperti rekannya yang kering
Saat lambungnya diburai....
Air mengalir dengan deras...
Air yang diminumkan paksa kepadanya...

Sang sapi tamat riwayat dengan tidak hormat
Hanya karena ambisi mengejar berat badan sang majikan
Haramlah dagingnya karena tercemar (menurut MUI)
Tercemar penyakit dari air dan nafsu serakah demi uang

Rugilah pembeli
Untunglah sang pemilik dengan jalan setan
Hanya dengan alasan kurang gemuk
Banyak nyawa sapi menjadi korban

Daging glonggong, daging basah
Nampak gemuk, namun sangat basah
Hati-hati membelinya
Karena mudah busuk dan mudharat

===========================

Seperti tahun2 sebelumnya, menjelang HARI RAYA IDUL FITRI, permintaan daging sapi adalah tinggi sekali di indonesia. tetapi sedih sekali peredaran sapi glonggongan masih banyak ditemukan diberbagai daerah (seperti diBoyolali <90%>, kediri, tulungagung dan mungkin daerah lainnya juga banyak)

SEDIH sekali membaca cerita sapi glonggonan..??? aku mulai meneteskan air mataku, ya…..

bukan lantaran pembeli atau penjual, melainkan perilaku terhadap hewan sapi tersebut.. bayangkan, Sapi yang harusnya oleh tukang jagal di potong dengan baik-baik, di beri makan dan setidaknya mendapat perlakuan yang baik…..

ternyata, sebaliknya…. sebelum pemotongan, mereka tidak diberi makan selama beberapa hari, tetapi mereka hanya memberikan air untuk isi perutnya, tidak dengan minum baik-baik melainkan dengan selang sepanjang 1 meter atau lebih di masukkan paksa ke mulut sapi hingga ke dalam saluran pencernaan d bawah mulut, MasyaAllah……

Setelah itu, air kran di kucurkan melalui selang air tersebut, hingga perut si sapi mengeras, baru pengucuran di hentikan. tidak hanya berhenti setelah itu, meskipun sapi lemah karena tidak makan dan merasakan berat air di perutnya, tetap saja si penjagal dkk memasukkan selang setiap frekuensi waktu tertentu, kemudian menyiram tubuh si sapi dengan air …… tidak hanya si sehat, yang sudah tergeletak lemas masih di perlakukan sama, Astaghfirullah al adzim…..

aku menangis, ketika melihat si sapi hanya terdiam tak bisa apa-apa, hingga sapi kejang-kejang sekarat dengan kondisinya, barulah si jagal memotong sapi tersebut……

Sungguh biadap, sebagai manusia harusnya mereka memperlakukan dengan baik, apa yang di lakukan mereka adalah penyiksaaan yang ku yakin merupakan dosa besar, dalam hati bahkan aku sempat berdoa, semoga Allah tidak membiarkan sapi-sapi yang tidak berdosa itu mendapatkan siksaan, dan Allah pasti akan memberi balasan atas perbuatan mereka…..

Sungguh sapi-sapi yang malang…..

aku sungguh benar2 mengutuk perbuatannnya, karena alasan menjual sapi dengan kondisi seperti itu memiliki berat timbangan yang selisih banyak dengan sapi melalui pemotongan biasa…..

mereka bisa mengeruk untung yang lebih banyak…. MasyaAllah….

27 September 2008

CEGAH SAPI ANDA DARI CACINGAN


Ternak ruminansia, termasuk sapi perah, memang rawan serangan cacing. Cacing pengganggu ini beragam jenisnya seperti cacing gilig, cacing pita, cacing pipih misalnya cacing hati dan trematoda, yang biasa terdapat di organ pencernaan.

Secara alami, jenis cacing ini pasti ada dalam tubuh sapi. Namun, selama populasinya belum mencapai ambang tertentu, cacing tersebut tidak mempengaruhi pertumbuhan sapi. Tiap jenis cacing berbeda ambang serangannya. Ada yang dalam jumlah sedikit sudah menyebabkan sapi sakit parah.

Ciri-ciri Cacingan
Tanda sapi perah terserang cacingan biasanya bisa tampak dari kondisi fisik, seperti lemah, kurang sehat, bulunya kusam, dan paling mudah bisa dilihat dari kotorannya yang terdapat larva cacing.

Bila tidak segera dilakukan pengobatan, kondisi fisik sapi akan menurun karena cacing ikut menyerap sari makanan dari dalam tubuh sapi. Bahkan serangan cacing pita dan cacing hati yang parah akan menyebabkan kematian.
“Pencegahan paling mudah adalah pemberian obat cacing secara rutin,” saran drh. Rositawati Indrati, MP, pakar penyakit ternak dari Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya Malang, Jatim, kepada AGRINA. Karena di Indonesia serangan tidak spesifik satu jenis cacing saja, Rosita menganjurkan penggunaan obat cacing berspektrum luas.


Sanitasi kandang penting dilakukan untuk menghindari kontak kotoran mengandung larva cacing dengan sapi sehat. Pakan yang berupa hijauan sebaiknya dilayukan dahulu guna menghindari larva cacing termakan oleh ternak bila diberikan dalam kondisi segar. Rosita menyarankan pula cara pemutusan siklus hidup cacing melalui penggembalaan ternak di luar kandang dalam waktu tertentu.
Pengalaman Eko, peternak sapi perah di Blitar, Jatim, dalam mencegah serangan cacing cukup dapat diandalkan. Dia mewaspadai sapi-sapi yang kelihatan kurus, bulunya kusam, napsu makannya besar tetapi produksinya rendah, dan sapi yang bau kotorannya amis.

Sapi-sapi dengan tanda seperti itulah yang diyakininya terkena cacingan. Untuk mencegah cacingan, dia memberikan obat cacing secara teratur, 1—2 bulan sekali, tergantung umur sapi.

Sementara untuk mengantisipasi adanya telur cacing dalam rumput gajah, dia meminumkan temulawak kepada sapi-sapinya sebulan sekali. Kecuali itu, sanitasi juga dilakukannya baik pada kandang maupun alat-alat pemberi pakannya.


Beberapa peternak sapi perah lain memberikan jamu-jamuan yang sifatnya juga mencegah serangan cacing. Misalnya, temu ireng dan ekstrak jambe untuk mengatasi serangan cacing pita, biji waluh/labu dalam pengobatan serangan cacing.

Pemberian bahan obat tradisional tersebut, berdasarkan pengalaman mereka, memberikan manfaat yang nyata. Kini studi tentang pemberian jamu-jamuan ini sudah mulai dilakukan beberapa lembaga penelitian.

Cacing Taxocara
Umumnya serangan cacing dapat terlihat dari kondisi fisik sapi dan kotorannya. Namun ternyata ada jenis cacing yang tidak terlacak dari keadaan fisik sapi maupun penampakan kotorannya.

“Jenis cacing Taxocara vitulorum tidak bisa dilihat larvanya pada kotoron. Malah saat susunya disaring baru diketahui serangannya,” ungkap Rositawati yang telah melakukan penelitian pelacakan Taxocara ini.


Taxocara termasuk larva viseral, baru bisa lihat larva pada kotoran pedet (anak sapi) yang menyusu induk terserang. Bila tidak terdeteksi sejak dini, dikhawatirkan induk sapi perah yang terserang cacing jenis ini akan menularkan pada anaknya.

Untuk pencegahan, pedet harus rutin diberi obat cacing sampai berumur 6 bulan.
Sapi perah dewasa yang terserang Taxocara tidak terlihat sakit, tetapi kualitas susunya akan menurun. Bila diperiksa secara teliti, pada susunya jelas akan mengandung larva Taxocara.

Meskipun sekarang paparan Taxocara pada susu belum masuk standar susu yang dikirim ke industri susu (malcodex /SNI ternak), pada masa mendatang dimungkinkan penolakan dari pihak industri susu karena cemaran cacing tersebut.

“Untuk itu telah dilakukan penelitian serodiagnotik, yaitu pemeriksaan serum sapi terserang dengan mengambil larva untuk dihasilkan antigen sehingga keberadaannya bisa dilacak,” jelas Rositawati.


Proses serodiagnotik tersebut, menurut Rosita, sudah dipatenkan oleh Fakultas Peternakan Unibraw. Melalui serodiagnotik dengan cepat, sapi yang terserang masih bisa diobati. Diharapkan, dengan penelitian lanjutan didapatkan hiperimun serum untuk pengobatan sapi terserang Taxocara.

25 September 2008

DETEKSI BIRAHI PENENTU KEBERHASILAN "IB"

PERIODE hidup sapi direkomendasikan hanya sampai delapan tahun atau setara jumlah beranak sapi betina. Maka, memelihara sapi betina secara ekonomis jelas menguntungkan, asalkan dapat menghasilkan keturunan (bunting).

Sejak inseminasi buatan (IB) pertama kali diperkenalkan ke peternak di tanah air 28 tahun silam, terjadi perubahan pola pemeliharaan ternak sapi dari jenis lokal ke crossing (silang). Kini IB makin diterima peternak, sehingga dalam mengawinkan sapinya mulai ada ketergantungan terhadap teknologi tersebut.

Namun celakanya, masih sering ditemui kegagalan dalam penerapan IB. Hal itu ditandai dengan adanya gagal bunting. Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), 70% penyebab kegagalan sapi bunting akibat deteksi birahi yang dilakukan peternak tidak tepat. Umumnya akibat pengetahuan peternak masih kurang. Sedangkan faktor kegagalan lainnya antara lain dari usia sapi awal kawin (sapi dara), kecukupan gizi sapi betina, kemampuan petugas IB atau inseminator dan kualitas bibit jantan.

Melihat kasus tersebut, pengamatan atau deteksi birahi perlu dikuasai peternak agar IB berhasil. Birahi pada sapi dapat ditandai dengan ciri-ciri antara lain sapi gelisah, warna kemerahan dan terjadi penebalan pada vagina, nafsu makan turun bahkan hilang sama sekali. Serta timbul perilaku menaiki sapi lain dan keluarnya lendir dari alat kelamin (vulva).

Dari tanda-tanda birahi tersebut, pedoman yang paling tepat bagi peternak untuk melaporkan kepada petugas IB bila sapi sudah mengeluarkan lendir yang cukup banyak dari alat kelaminnya. Banyak terjadi kasus, tanpa memperhatikan leleran cairan dari vulva, tapi peternak sudah memanggil inseminator. Bahkan ada yang melapor karena sapinya sudah ‘teriak-teriak’. Padahal tidak semua sapi betina memperlihatkan tanda itu, banyak juga yang diam saja (silent haid).

”Pela-pelu”

Dalam teknologi IB, yang paling valid dipakai sebagai dasar laporan ke inseminator adalah keluarnya cairan kental, setelah tanda-tanda lainnya semacam vulva menebal, dan tampak kemerahan. Sedangkan tanda-tanda lainnya hanya sebagai awal birahi. Keluarnya cairan kental dari vulva sering disebut peternak sebagai pela-pelu (standing haid).

Stadium standing haid dipakai inseminator sebagai pedoman untuk menandai dan menghitung kapan sel telur turun dari indung telur. Fase ini menjadi dasar hitungan turunnya telur, atau terjadi sekira 10 jam kemudian dari stadium ini. Maka, inseminator selalu bertanya kepada pemilik sapi, kapan pela-pelu keluar.

Usai memperoleh inseminasi, peternak masih harus tetap melakukan pengamatan pada sapi betina. Siapa tahu pela-pelu yang umumnya hanya keluar selama satu hari, tapi karena kesuburannya bisa lebih dari satu hari. Dalam kasus ini, peternak harus melapor kembali ke inseminator agar melakukan IB ulang. Pedoman yang dipakai untuk mengawinkan sapi ada pada pela-pelu yang terlihat pada hari terakhir. Jika masih terlihat pela-pelu di hari kedua, sebaiknya dilakukan IB ulang. Tanpa mengulang IB, kemungkinan bunting kecil sekali. Hal ini perlu dipaparkan agar tidak ada lagi anggapan setelah disuntik pasti bun ting, sehingga mengabaikan pengamat an kemungkinan masih adanya tanda birahi hari berikutnya.

Penyakit kelamin

Teknologi inseminasi buatan (IB) atau artificial insemination (AI) semakin dikenal peternak di tanah air. Sejak dikenalkan pertama kali pada tahun 1976, IB yang sering juga disebut kawin suntik juga telah menghasilkan ternak unggul hasil persilangan dengan ternak lokal.

Salah satu keuntungan IB, khususnya pada sapi, dapat mencegah penularan penyakit kelamin. Misalnya brucellosis yang dapat menyebabkan sapi betina mandul dan bersifat zoonosis. Penyakit semacam itu dapat dihindari karena sperma yang disuntikkan dengan insemining gun (pistol inseminasi) benar-benar berasal dari pejantan unggul.

Di BPMBPT (Balai Pengembangan Mutu Bibit dan Pakan Ternak) DI Yogyakarta misalnya, sapi yang disadap spermanya selalu dicek kondisi kesehatannya. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara kualitas sperma.

Selain itu, IB juga mengatasi kelemahan kawin alamiah. IB dapat dilakukan kapan pun, asalkan kondisi sapi betina sedang subur. Teknologi ini juga sangat efisien dan hemat transportasi, karena tidak perlu membawa pejantan ke suatu tempat. Jadi cukup membawa spermanya yang disimpan di dalam straw ke peternakan.

Standar sperma sapi yang layak digunakan untuk keperluan IB sebelum disimpan di dalam straw, harus memiliki konsentrasi 700 juta spermatozoa. Jika konsentrasi berada di bawah angka tersebut biasanya dibuang, karena diyakini secara ilmiah tidak dapat membuahi.

Setelah sperma sapi dimasukkan ke dalam straw, konsentrasinya menjadi 25 juta spermatozoa (1 straw berisi 0,25 ml). Standar warna straw setiap jenis sapi sudah ditentukan secara internasional. Putih untuk sapi simmental dan merah untuk sapi limousin. Selanjutnya sperma dalam straw dibekukan di tabung N2 cair ber suhu minus 196 derajat Celsius. Selama berada di dalamnya, sperma tersebut akan awet selama bertahun-tahun, hingga 10 tahun.*

*Drh. Nur K.S.,
Peternak sapi di Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta.