27 September 2008

CEGAH SAPI ANDA DARI CACINGAN


Ternak ruminansia, termasuk sapi perah, memang rawan serangan cacing. Cacing pengganggu ini beragam jenisnya seperti cacing gilig, cacing pita, cacing pipih misalnya cacing hati dan trematoda, yang biasa terdapat di organ pencernaan.

Secara alami, jenis cacing ini pasti ada dalam tubuh sapi. Namun, selama populasinya belum mencapai ambang tertentu, cacing tersebut tidak mempengaruhi pertumbuhan sapi. Tiap jenis cacing berbeda ambang serangannya. Ada yang dalam jumlah sedikit sudah menyebabkan sapi sakit parah.

Ciri-ciri Cacingan
Tanda sapi perah terserang cacingan biasanya bisa tampak dari kondisi fisik, seperti lemah, kurang sehat, bulunya kusam, dan paling mudah bisa dilihat dari kotorannya yang terdapat larva cacing.

Bila tidak segera dilakukan pengobatan, kondisi fisik sapi akan menurun karena cacing ikut menyerap sari makanan dari dalam tubuh sapi. Bahkan serangan cacing pita dan cacing hati yang parah akan menyebabkan kematian.
“Pencegahan paling mudah adalah pemberian obat cacing secara rutin,” saran drh. Rositawati Indrati, MP, pakar penyakit ternak dari Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya Malang, Jatim, kepada AGRINA. Karena di Indonesia serangan tidak spesifik satu jenis cacing saja, Rosita menganjurkan penggunaan obat cacing berspektrum luas.


Sanitasi kandang penting dilakukan untuk menghindari kontak kotoran mengandung larva cacing dengan sapi sehat. Pakan yang berupa hijauan sebaiknya dilayukan dahulu guna menghindari larva cacing termakan oleh ternak bila diberikan dalam kondisi segar. Rosita menyarankan pula cara pemutusan siklus hidup cacing melalui penggembalaan ternak di luar kandang dalam waktu tertentu.
Pengalaman Eko, peternak sapi perah di Blitar, Jatim, dalam mencegah serangan cacing cukup dapat diandalkan. Dia mewaspadai sapi-sapi yang kelihatan kurus, bulunya kusam, napsu makannya besar tetapi produksinya rendah, dan sapi yang bau kotorannya amis.

Sapi-sapi dengan tanda seperti itulah yang diyakininya terkena cacingan. Untuk mencegah cacingan, dia memberikan obat cacing secara teratur, 1—2 bulan sekali, tergantung umur sapi.

Sementara untuk mengantisipasi adanya telur cacing dalam rumput gajah, dia meminumkan temulawak kepada sapi-sapinya sebulan sekali. Kecuali itu, sanitasi juga dilakukannya baik pada kandang maupun alat-alat pemberi pakannya.


Beberapa peternak sapi perah lain memberikan jamu-jamuan yang sifatnya juga mencegah serangan cacing. Misalnya, temu ireng dan ekstrak jambe untuk mengatasi serangan cacing pita, biji waluh/labu dalam pengobatan serangan cacing.

Pemberian bahan obat tradisional tersebut, berdasarkan pengalaman mereka, memberikan manfaat yang nyata. Kini studi tentang pemberian jamu-jamuan ini sudah mulai dilakukan beberapa lembaga penelitian.

Cacing Taxocara
Umumnya serangan cacing dapat terlihat dari kondisi fisik sapi dan kotorannya. Namun ternyata ada jenis cacing yang tidak terlacak dari keadaan fisik sapi maupun penampakan kotorannya.

“Jenis cacing Taxocara vitulorum tidak bisa dilihat larvanya pada kotoron. Malah saat susunya disaring baru diketahui serangannya,” ungkap Rositawati yang telah melakukan penelitian pelacakan Taxocara ini.


Taxocara termasuk larva viseral, baru bisa lihat larva pada kotoran pedet (anak sapi) yang menyusu induk terserang. Bila tidak terdeteksi sejak dini, dikhawatirkan induk sapi perah yang terserang cacing jenis ini akan menularkan pada anaknya.

Untuk pencegahan, pedet harus rutin diberi obat cacing sampai berumur 6 bulan.
Sapi perah dewasa yang terserang Taxocara tidak terlihat sakit, tetapi kualitas susunya akan menurun. Bila diperiksa secara teliti, pada susunya jelas akan mengandung larva Taxocara.

Meskipun sekarang paparan Taxocara pada susu belum masuk standar susu yang dikirim ke industri susu (malcodex /SNI ternak), pada masa mendatang dimungkinkan penolakan dari pihak industri susu karena cemaran cacing tersebut.

“Untuk itu telah dilakukan penelitian serodiagnotik, yaitu pemeriksaan serum sapi terserang dengan mengambil larva untuk dihasilkan antigen sehingga keberadaannya bisa dilacak,” jelas Rositawati.


Proses serodiagnotik tersebut, menurut Rosita, sudah dipatenkan oleh Fakultas Peternakan Unibraw. Melalui serodiagnotik dengan cepat, sapi yang terserang masih bisa diobati. Diharapkan, dengan penelitian lanjutan didapatkan hiperimun serum untuk pengobatan sapi terserang Taxocara.

25 September 2008

DETEKSI BIRAHI PENENTU KEBERHASILAN "IB"

PERIODE hidup sapi direkomendasikan hanya sampai delapan tahun atau setara jumlah beranak sapi betina. Maka, memelihara sapi betina secara ekonomis jelas menguntungkan, asalkan dapat menghasilkan keturunan (bunting).

Sejak inseminasi buatan (IB) pertama kali diperkenalkan ke peternak di tanah air 28 tahun silam, terjadi perubahan pola pemeliharaan ternak sapi dari jenis lokal ke crossing (silang). Kini IB makin diterima peternak, sehingga dalam mengawinkan sapinya mulai ada ketergantungan terhadap teknologi tersebut.

Namun celakanya, masih sering ditemui kegagalan dalam penerapan IB. Hal itu ditandai dengan adanya gagal bunting. Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), 70% penyebab kegagalan sapi bunting akibat deteksi birahi yang dilakukan peternak tidak tepat. Umumnya akibat pengetahuan peternak masih kurang. Sedangkan faktor kegagalan lainnya antara lain dari usia sapi awal kawin (sapi dara), kecukupan gizi sapi betina, kemampuan petugas IB atau inseminator dan kualitas bibit jantan.

Melihat kasus tersebut, pengamatan atau deteksi birahi perlu dikuasai peternak agar IB berhasil. Birahi pada sapi dapat ditandai dengan ciri-ciri antara lain sapi gelisah, warna kemerahan dan terjadi penebalan pada vagina, nafsu makan turun bahkan hilang sama sekali. Serta timbul perilaku menaiki sapi lain dan keluarnya lendir dari alat kelamin (vulva).

Dari tanda-tanda birahi tersebut, pedoman yang paling tepat bagi peternak untuk melaporkan kepada petugas IB bila sapi sudah mengeluarkan lendir yang cukup banyak dari alat kelaminnya. Banyak terjadi kasus, tanpa memperhatikan leleran cairan dari vulva, tapi peternak sudah memanggil inseminator. Bahkan ada yang melapor karena sapinya sudah ‘teriak-teriak’. Padahal tidak semua sapi betina memperlihatkan tanda itu, banyak juga yang diam saja (silent haid).

”Pela-pelu”

Dalam teknologi IB, yang paling valid dipakai sebagai dasar laporan ke inseminator adalah keluarnya cairan kental, setelah tanda-tanda lainnya semacam vulva menebal, dan tampak kemerahan. Sedangkan tanda-tanda lainnya hanya sebagai awal birahi. Keluarnya cairan kental dari vulva sering disebut peternak sebagai pela-pelu (standing haid).

Stadium standing haid dipakai inseminator sebagai pedoman untuk menandai dan menghitung kapan sel telur turun dari indung telur. Fase ini menjadi dasar hitungan turunnya telur, atau terjadi sekira 10 jam kemudian dari stadium ini. Maka, inseminator selalu bertanya kepada pemilik sapi, kapan pela-pelu keluar.

Usai memperoleh inseminasi, peternak masih harus tetap melakukan pengamatan pada sapi betina. Siapa tahu pela-pelu yang umumnya hanya keluar selama satu hari, tapi karena kesuburannya bisa lebih dari satu hari. Dalam kasus ini, peternak harus melapor kembali ke inseminator agar melakukan IB ulang. Pedoman yang dipakai untuk mengawinkan sapi ada pada pela-pelu yang terlihat pada hari terakhir. Jika masih terlihat pela-pelu di hari kedua, sebaiknya dilakukan IB ulang. Tanpa mengulang IB, kemungkinan bunting kecil sekali. Hal ini perlu dipaparkan agar tidak ada lagi anggapan setelah disuntik pasti bun ting, sehingga mengabaikan pengamat an kemungkinan masih adanya tanda birahi hari berikutnya.

Penyakit kelamin

Teknologi inseminasi buatan (IB) atau artificial insemination (AI) semakin dikenal peternak di tanah air. Sejak dikenalkan pertama kali pada tahun 1976, IB yang sering juga disebut kawin suntik juga telah menghasilkan ternak unggul hasil persilangan dengan ternak lokal.

Salah satu keuntungan IB, khususnya pada sapi, dapat mencegah penularan penyakit kelamin. Misalnya brucellosis yang dapat menyebabkan sapi betina mandul dan bersifat zoonosis. Penyakit semacam itu dapat dihindari karena sperma yang disuntikkan dengan insemining gun (pistol inseminasi) benar-benar berasal dari pejantan unggul.

Di BPMBPT (Balai Pengembangan Mutu Bibit dan Pakan Ternak) DI Yogyakarta misalnya, sapi yang disadap spermanya selalu dicek kondisi kesehatannya. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara kualitas sperma.

Selain itu, IB juga mengatasi kelemahan kawin alamiah. IB dapat dilakukan kapan pun, asalkan kondisi sapi betina sedang subur. Teknologi ini juga sangat efisien dan hemat transportasi, karena tidak perlu membawa pejantan ke suatu tempat. Jadi cukup membawa spermanya yang disimpan di dalam straw ke peternakan.

Standar sperma sapi yang layak digunakan untuk keperluan IB sebelum disimpan di dalam straw, harus memiliki konsentrasi 700 juta spermatozoa. Jika konsentrasi berada di bawah angka tersebut biasanya dibuang, karena diyakini secara ilmiah tidak dapat membuahi.

Setelah sperma sapi dimasukkan ke dalam straw, konsentrasinya menjadi 25 juta spermatozoa (1 straw berisi 0,25 ml). Standar warna straw setiap jenis sapi sudah ditentukan secara internasional. Putih untuk sapi simmental dan merah untuk sapi limousin. Selanjutnya sperma dalam straw dibekukan di tabung N2 cair ber suhu minus 196 derajat Celsius. Selama berada di dalamnya, sperma tersebut akan awet selama bertahun-tahun, hingga 10 tahun.*

*Drh. Nur K.S.,
Peternak sapi di Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta.

MEMILIH HEWAN YANG SEHAT


Pengetahuan dalam memilih hewan yang sehat sangat penting terutama bagi masyarakat yang akan membeli langsung hewan kurban dari penjualnya. Hewan dapat dipilih berdasarkan hasil judging. Judging adalah penilaian tingkatan ternak dengan beberapa karakteristik penting untuk tujuan tertentu secara subjektif. Judging terdiri atas tiga langkah yaitu, penilaian melalui kecermatan pandangan (visual), penilaian melalui kecermatan perabaan (palpasi), dan penilaian melalui pengukuran tubuh.

Ternak yang sehat dapat dipilih dengan melakukan penilaian melalui pandangan dari samping, belakang, dan depan atas ternak tersebut. Untuk mengetahui bahwa ternak dalam kondisi sehat, maka perlu perlu diketahui karakteristik ternak yang sehat. Karakteristik tersebut meliputi, keadaan mata dan kulitnya normal, pergerakannya tidak kaku, tingkah laku dan nafsu makan normal, pengeluaran kotoran dan urine tidak sulit, tidak ada gangguan dalam berjalan dan berdiri, serta memiliki respirasi dan sirkulasi darah yang normal.

Ternak (sapi) yang sehat memiliki kulit yang lentur dan mudah dilipat. Jika kulit ternak ditarik dan dijepit kemudian lipatan tidak menghilang, maka ternak tersebut kehilangan cairan. Keadaan ini terjadi pada ternak yang terserang diare. Mata, mulut, dan hidung ternak yang terdapat lendir berlebihan menunjukkan ternak tersebut dalam keadaan sakit. Cara ternak berjalan dan berdiri dapat menjadi abnormal ketika ada bagian tubuh yang sakit. Jika kuku ternak terinfeksi, maka ternak tersebut akan terlihat pincang.

Kotoran dan urine harus keluar secara teratur, tidak berdarah, dan memiliki kepadatan normal. Jika kotoran keluar dalam keadaan cair dan menempel di sekitar ekor, maka ternak tersebut terkena diare. Rambut yang tumbuh di sekitar kulit harus tumbuh normal, halus, dan bercahaya. Ternak yang terkena anemia akan memiliki rambut yang kasar, kering, dan terjadi kerontokan. Kasus seperti ini akan terlihat pula pada ternak yang terinfeksi dan mengalami defisiensi nutrisi.

Selanjutnya, penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan tulang-tulang rusuk (ribs) untuk memilih ternak yang gemuk. Ternak kurus tidak selalu dalam keadaan sakit, namun ternak yang gemuk menandakan produksi daging yang optimal. Tulang rusuk sapi berjumlah 13 buah. Semakin sedikit tulang rusuk yang membayang di balik kulit, maka ternak tersebut semakin gemuk. Hal ini terjadi karena tulang rusuk tertutup oleh perdagingan dan lemak.

Setelah melakukan penilaian secara visual, ternak yang akan dijadikan hewan kurban dapat dinilai dengan melakukan perabaan dan pemeriksaan dengan tangan. Ternak yang sehat memiliki sirkulasi darah yang normal. Tekanan ventrikel jantung menyebabkan darah melalui arteri. Tekanan jantung dapat dirasakan dengan meletakkan tangan pada daerah jantung. Detak jantung dapat diperiksa dengan mengukur tingkat pulsa ternak dalam satu menit. Pulsa ternak dapat dirasakan dengan menekan secara lunak jari telunjuk dan jari tengah pada arteri yang berada dekat dengan permukaan kulit. Sapi memiliki pulsa sebanyak 60 hingga 70 dan domba sebanyak 60 hingga 70. Tingkat pulsa akan meningkat jika ternak dalam keadaan demam.

Ternak yang sehat akan melakukan respirasi secara ritmik dan tenang. Tingkat respirasi dapat diketahui dengan mendekatkan telapak tangan di depan hidung ternak dengan menghitung jumlah penarikan nafas dalam satu menit. Tingkat respirasi sapi sebanyak 10 hingga 30 dan domba 10 hingga 20. Ternak yang sakit dan berada dalam temperatur tinggi akan memiliki tingkat respirasi yang tinggi.

Kegemukan ternak (sapi) dapat diketahui dengan meraba perkembangan otot di antara tulang processus spinosus (tulang belakang) dengan processus transversus (tulang rusuk rudimenter). Pada ternak yang gemuk, processus transversus tidak dapat teraba oleh tangan dan terasa sekali perlemakan yang tebal di balik kulit. Pada domba yang tertutup rambut tebal, perabaan dilakukan dengan tangan terbuka pada punggung dari arah belakang dekat pangkal ekor sampai ke leher dengan jarak perabaan tidak lebih dari 5 cm.

Apabila memungkinkan, ternak untuk hewan kurban dapat dinilai dengan mengukur berbagai ukuran-ukuran tubuh seperti, panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, lebar dada, dan dalam dada. Ukuran yang penting dalam mengetahui kegemukan dan berat tubuh ternak tersebut adalah lingkar dada dan panjang badan. Lingkar dada diukur melingkar di belakang sendi bahu (os. scapula).

Umur ternak dapat diketahui dengan melihat keadaan gigi seri (incicors). Jika ternak memiliki satu pasang gigi seri permanen, maka ternak tersebut berumur 1-1,5 tahun untuk domba dan 1,5-2 tahun untuk sapi.

Jika semua faktor tadi telah dipertimbangkan dan dilakukan dengan baik, maka akan diperoleh hewan kurban yang sehat dan aman. Sebelum dikonsumsi, daging hewan kurban harus melalui proses pemanasan dan pemasakan sempurna untuk menghindari penularan penyakit yang ada dalam daging. Hari Raya Iduladha merupakan saat yang tepat untuk kembali meningkatkan konsumsi protein hewani dan melakukan sistem kesehatan hewan yang terpadu.

Kesehatan hewan harus dipandang sebagai bagian dari kesehatan masyarakat. Penyediaan bahan pangan asal hewan bagi masyarakat harus memenuhi standar kesehatan. Kesehatan hewan merupakan faktor penting dalam pembangunan subsektor peternakan secara umum yang dituntut untuk selalu menghasilkan keluaran yang aman bagi konsumen. Sistem kesehatan hewan harus dibangun dengan mengubah pendekatan penyakit hewan (animal disease approach) menjadi pendekatan kesehatan hewan (animal health approach) secara utuh.

14 September 2008

Mengharap "Harga Gemuk" Sapi Potong

Mengharap “Harga Gemuk” Sapi Potong

Kemarau panjang yang segera berlalu tahun ini berdampak melambungnya harga bahan pakan dan akhirnya membengkakkan biaya produksi bagi peternak sapi potong di kawasan Yogyakarta.

Bila dihitung-hitung secara bisnis, menurut Ir. Iswanto, Manajer Farm PT Semesta Buana Surya Jaya, perusahaan penggemukan sapi (feedlot) di Desa Sumbermulyo, Kec. Bambanglipuro, Kab. Bantul, biaya penggemukan sapi mencapai Rp17.000/kg. Sekitar Rp8.000 tersedot dalam pembelian pakan, selebihnya untuk membayar tenaga kerja, listrik, penyusutan, air, dan sebagainya.

Di antara komponen pakan, harga bekatul melonjak cukup nyata. Harga bekatul berkualitas bagus dari Rp1.000/kg pada masa sebelum bencana gempa melanda Yogya, dan kini menjadi Rp1.300/kg. Sedangkan biaya pembelian hijauan, khususnya jenis kalanjana, mencapai Rp5.000/ikat atau Rp2.500—Rp3.000 dari total biaya produksi daging per kilo.

Peternak yang tidak melakukan kiat tertentu dipastikan bakal merugi. Pasalnya, harga sapi hidup pada minggu pertama Desember baru mencapai sekitar Rp17.000—Rp18.000/kg. Apalagi harga sapi bakalannya saja naik dari Rp16.800/kg menjadi Rp18.500/kg.

Hal berbeda diungkap Haryanto, SPt, Staf Produksi PT Lembu Perkasa Karya Mandiri, feedlot. Beliau mengatakan biaya penggemukan sapi blasteran lokal di perusahaan yang kini memelihara 33 ekor sapi tersebut sekitar Rp10.000—Rp11.000/kg hidup. Angka yang sama juga diungkap Reza Ferari, peternak sekaligus pemotong sapi di kawasan Menteri Supeno, Yogyakarta.

Kiat Khusus

Menghadapi situasi yang kurang menguntungkan bagi usahanya, Iswanto mengaku harus melakukan kiat khusus untuk menekan biaya produksi. “Yang saya lakukan, mengurangi jatah konsentrat yang biasanya 8 kilo menjadi 5—6 kilo, meramu sendiri pakan, menambah porsi rumput kalanjana sampai sekenyangnya sapi,” ungkapnya.


Lebih jauh dikatakan Iswanto, dalam hal bekatul, ia mengoplos bekatul, dari kualitas bagus 25%, sedang 50%, dan kurang bagus 25%. Untuk meningkatkan nafsu makan sapi, ia menambahkan jamu-jamuan. Sementara pasokan rumput kalanjananya diupayakan dengan memperluas kebun sendiri.


Dengan trik seperti itu, biaya produksi bisa ditekan hingga sekitar Rp10.000/kg. Kualitas daging cukup bagus karena kadar lemaknya rendah dan kondisi seratnya bagus.

“Kalau biaya pakan di bawah Rp10.000/ekor/hari, pertambahan berat badan harian sapi tidak sampai satu kilo. Padahal usaha penggemukan itu kalau pertambahan berat badannya itu tidak di atas satu kilo, maka tidak jalan,” terang Siswanto yang kini mengelola 107 ekor sapi blasteran dan 30 ekor sapi Jawa.


Upaya yang dijalankan Iswanto memang mampu menekan biaya produksi tetapi ada konsekuensinya. Dengan periode penggemukan yang sama, 4 bulan, penambahan bobot rata-rata harian (average daily gain-ADG) berkurang 0,1 kg.

Menurut pengalamannya, kalau komposisi dan jumlah pakan seperti biasanya, sapi keturunan Simmental dapat mencapai ADG 1—1,25 kg, Limousin 1 kg, dan sapi Jawa 0,8 kg.

Sapi Kurban

Menghadapi Hari Raya Kurban (Idul Adha) yang jatuh pada 31 Desember, Iswanto dan Haryanto sudah mempersiapkan diri. Keduanya memelihara sapi Jawa, istilah untuk sapi berkulit putih, dengan kualifikasi fisik yang bagus.

Sapi itu harus jantan, minimal berumur 2 tahun, tidak cacat, dan tidak dikebiri. Pemeliharaan sapi kurban tidak selama sapi untuk dikonsumsi. Kalau sapi konsumsi butuh waktu 4 bulan, sapi kurban cukup 3 bulan.


Harga sapi kurban berbeda dari sapi potong konsumsi. “Harga pasaran sapi kurban sekitar Rp20.000/kg,” ujar Haryanto yang menjual sapinya ke sekitar Yogya, Kebumen, dan Wonosobo. Sementara itu, Reza memperkirakan harga dapat menembus angka Rp21.000/kg.


Ketika ditanya mengenai peluang meraih penjualan menjelang Hari Raya Kurban nanti, baik Haryanto maupun Iswanto mengaku optimis dapat menghabiskan isi kandang masing-masing.

Apalagi, “Kami punya pelanggan yang sudah memesan,” ujar Iswanto. Ia menambahkan, penjualan sapi kurban lebih banyak menggunakan sistem per ekor, bukan kiloan. Pasarannya bisa sekitar Rp5,5 juta/ekor.


Berbicara soal pasar sapi potong, Iswanto sempat memaparkan kondisi beberapa bulan pascagempa yang cukup memprihatinkan. Waktu itu sempat akses pasar para peternak sangat sempit, hanya mengandalkan pasar lokal, yaitu di Kecamatan Pleret dan Prambanan.

Terlebih, perusahaannya telah menjalin kemitraan berupa penjualan sapi potong dan pengambilan sapi bakalan dari para pelaku bisnis sapi potong di kedua wilayah tersebut. “Sampai sekarang kita tidak mengirim sendiri ke Jakarta atau tempat lain karena risikonya tinggi,” jelasnya.


Syukurlah saat ini pasar sapi potong sudah lebih baik meskipun daya beli masyarakat, terutama sekitar wilayah bencana, belum bisa diharapkan karena mereka memprioritaskan dana untuk rehabilitasi pemukiman.

“Sekarang serapan pasar sudah pulih. Kita kembali bisa menjual 15-20 ekor sapi per bulan. Mudah-mudahan pada lebaran haji nanti harga akan naik,” harap Iswanto.


sumber: http://agrina-online.com


06 August 2007

BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG

BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG

1. SEJARAH SINGKAT

Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.

2. SENTRA PETERNAKAN

Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia.

Sapi Simental banyak terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di Amerika.

3. J E N I S

Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).

Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi
Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman.

Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung ekor berwarna putih.

Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.

4. MANFAAT

Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan
sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.

Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:

1) Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.

2) Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang kerajinan

3) Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.

5. PERSYARATAN LOKASI

Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.

Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.

Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.

Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.

Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).

Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.

1) Konstruksi dan letak kandang
Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing
sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.
Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal
dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak
terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.
Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang
bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan
tidak boleh kehabisan setiap saat.
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter
dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan
kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.

2) Ukuran Kandang
Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5x1 m.

3) Perlengkapan Kandang
Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.

Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.

6.2. Pembibitan
Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:

1) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.

2) Matanya tampak cerah dan bersih.

3) Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.

4) Kukunya tidak terasa panas bila diraba.

5) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.

6) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.

7) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.

8) Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.


Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:

1) tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.

2) kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.

3) laju pertumbuhannya relatif cepat.

4) efisiensi bahannya tinggi.

6.3. Pemeliharaan
Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.

Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.

  1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
    Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.
  2. Pemberian Pakan
    Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

    Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.

    Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.

    Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.

    Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi
    menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.

    Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar.

    Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.

3. Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.

Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Penyakit

1. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.
Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.

2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.

3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.

4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.

7.2. Pengendalian
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:

1. Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.

2. Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.

3. Mengusakan lantai kandang selalu kering.

4. Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.

8. P A N E N

8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya

8.2. Hasil Tambahan
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil tambahan dari budidaya sapi potong.

9. PASCA PANEN

9.1. Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:

1. Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan

2. Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.

3. Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.

4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.

9.2. Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi
dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.

9.3. Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.

9.4. Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang akan dipotong.

Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.

Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%).

Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:

Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %


Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:

1) Biaya Produksi

a. Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,- Rp. 48.750.000,-

b. Kandang Rp. 1.000.000,-

c. Pakan
- Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari
- Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari
Rp. 12.000.000,-
Rp. 7.482.500,-

d. Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,- Rp. 75.000,-

Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-



2) Pendapatan

a. Penjualan sapi kereman
Tambahan >Rp. 75.000,-

Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-



2) Pendapatan

a. Penjualan sapi kereman
Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg
Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg


Rp. 111.110.000,-

b. Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,- Rp. 1.095.000,-

Jumlah pendapatan Rp. 112.205.000,-


3) Keuntungan

a. Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun. Rp. 42.897.500,-


4) Parameter kelayakan usaha

a. B/C ratio = 1,61

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta.

Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu :

a) Konsumen Akhir
Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total.

Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu :

1. Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )
Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.

2. Konsumen asing
Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika dilakukan porsinya tidak signifikan.

b) Konsumen Industri
Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin meningkat


Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi. Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu :

a) KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia), yang mewakili pemasok produksi peternakan rakyat.

b) APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia), yang mewakili peternak penggemukan

c) ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia).

11. DAFTAR PUSTAKA

1. Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi, Kanisius, Yogyakarta.

2. Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, Jakarta.

3. Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternaka

4. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya, Jakarta.

5. Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.

6. Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New York.

12. KONTAK HUBUNGAN

1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id

Sumber :
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas